Category Archives: Profil Pesantren

Spirit Entrepreneur Santri @ PP Bahrul Ulum, Tambak Beras Jombang

Dalam Rangka Maulid Nabi dan bertepatan dengan Harlah NU ke 87, Himpunan Pengusaha Santri Indonesia, mengadakan Roadshow Entrepreneur diawali di Pon.Pes.Bahrul ‘Ulum Jombang, Kamis 31_01_2013.
Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Roadshow 100 Pesantren Se-Indonesia 2013. Menuju Visi 1 Juta Santri Pengusaha

Berita di NU Online : http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,2-id,42191-lang,id-c,daerah-t,HIPSI+Kenalkan+Jiwa+Keriwausahaan+pada+Pelajar-.phpx

P3M Adakan Pelatihan Tekonologi Pertanian

Berkerjasama dengan penemu teknologi dan know-how formula produk “ZPT, Hayati dan Pupuk Organik” dari Teknologi JimmyHantu-150, Jimmy alias Sujimin, P3M mengadakan pelatihan Teknologi Pertanian di Bogor.
Acara di mulai kemarin malam, (16/01/2012), bertempat di Kampung Nyalindang RT 02/05, Sukamantri, Tamansari, Bogor. Untuk kemarin, kegiatannya hanya pembukaan yang dihadiri oleh Dewan Pengawas P3M, KH. Masdar F. Masudi.
“Peserta kegiatan ini dari jaringan P3M yang tersebar di berbagai daerah. Diantaranya yang hadir dalam pelatihan ini, dari Nganjuk, Sulawesi, Lampung, Rembang, Blitar, Sukabumi, Tegal, dan lain-lain,” tutur Imam Thoha, Program Officer Community Development.
Menurut Imam Thoha, P3M sejauh ini sudah melakukan berbagai kegiatan hal serupa di Lapangan seperti di Subang, Sukabumi, Lampung, Karawang dan Banyuwangi. Tidak hanya dalam bentuk pelatihan dan penyuluhan kepada petani, yang pada umumnya petani di lingkungan santri yang menjadi basis dari P3M, selain juga pesantren itu sendiri. Kegiatan kali ini, adalah bentuk penguatan jaringan, dengan pengembangan kapasitas SDM kelompok-kelompok tani yang menjadi jaringan P3M. Di samping itu juga dalam pelatihan ini peserta akan dibekali materi yang tidak melulu teori, namun juga praktek langsung di lapangan.
Tempat pelatihan yang juga kediaman Jimmy, merupakan tempat pengembangan dan budidaya, dengan tempat yang cukup luas membaur di komplek warga desa Nyalindang. Di komplek pengembangan pengembangan dan budidaya itu, terdiri dari ternak seperti itik, ayam, enthog, dan berbagai macam buah dan sayuran, juga termasuk padi organik unggulan. Di tempat inilah, nantinya peserta akan langsung bersentuhan dengan materi-materi yang disampaikan Jimmy, mengaplikasikan langsung teori yang diterangkan.
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari efektif, dimulai pagi ini, (17/01/2012), Pengolahan lahan pertanian, Penjelasan pupuk dan bukan pupuk, perbedaan hormon dan pupuk, siklus kehidupan tanaman, Istirahat dan shalat dzuhur, pembibitan/persilangan hibrida dari dini, reproduksi dan overload pertanian, dan terakhir dalam sesi pertama ini peserta akan diberikan materi Gagalnya petani dan pangsa pasar pertanian.

Tegalrejo, dari Tasawuf, Entrepreneur hingga Seni Rakyat

PESANTREN TEGALREJO Magelang tempat KH Abdurrahman Wahid dulu nyantri, dan tempat kebudayaan rakyat Jawa dan tradisi-tradisi keagamaan Aswaja terpelihara dengan baik.

Pesantren ini, didirikan pada September 1944 oleh Kiai Chudori (wafat 28 Agustus 1977) di daerah kaki gunung Merbabu, Tegalrejo, Magelang. Kini dengan jumlah santri lebih 2000. Pesantren ini merupakan salah satu pesantren terbesar di Jawa Tengah.  Lahir dari keluarga penghulu di Tegalrejo, Kiai Chudori sejak kecil dididik untuk menjadi kiai. Setelah menyelesaikan sekolah dasarnya di HIS (Hollandsch Inlandsche School), pada 1923 ia dikirim ayahnya nyantri di Pesantren Payaman, Magelang, yang diasuh oleh Kiai Siroj.


Jarak 12 kilometer dari rumah tidak menghalanginya untuk memanggul perbekalan tiap bulan ke pondok ini. Setelah itu, ia mengembara sebagai santri kelana, dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Dari Pesantren Koripan asuhan Kiai Abdan, Pesantren Grabag pimpinan Kiai Rahmat hi tahun 1928. Setelah itu nyantri ke Pesantren Tebuireng, Jombang, selama empat tahun.

Di pesantren asuhan Hadhratussyekh KH Hasyim Asy’ari ini, Kiai Chudori menemukan “tanah air spiritual”-nya. Berbagai disiplin keilmuan ditekuninya, mulai dari tata bahasa Arab, fiqih, hingga pendalaman tasawuf.

Kemudian beliau melanjutkan pengembaraannya menuntut ilmu ke Pesantren Bendo, Pare, Kediri, pada tahun 1933, di bawah asuhan Kiai Chozin Muhajir. Di sini Kiai Chudori mendalami Kitab Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Empat tahun kemudian pindah ke Pesantren Sedayu, Jawa Timur, lau ke Pesantren Lasem, Jawa Tengah, di bawah asuhan KH Ma’shum dan KH Baidlowi.

Setelah menikah dengan putri Kiai Dalhar, pimpinan Pesantren Watu Congol, Muntilan, Magelang, dan setelah mujahadah meminta petunjuk Allah SWT, Kiai Chudori mendirikan pesantren di kampungnya sendiri. Santri pertamanya berjumlah 8 orang, semuanya dari desa-desa terdekat. Selama revolusi kemerdekaan, pesantren ini menjadi benteng perjuangan gerilyawan Republik. Kiai Chudori memberi izin kepada sebagian santri-santrinya untuk ikut bergerilya. Tapi akhirnya pihak Belanda menguasai Tegalrejo, dan bangunan pesantren terpaksa dibongkar. Sang kiai dan keluarganya mengungsi ke pedalaman.

Setelah perjuangan bersenjata dan revolusi berakhir, pesantren dibuka kembali, meski dengan modal seadanya. Berkat perjuangan dan kegigihan beliau, pesantren akhirnya dapat berkembang hingga mencapai jumlah santri 400-an orang pada tahun 1954.

Pada Pemilu 1955, Pesantren Tegalrejo memberi dukungan kepada Partai NU, meski Kiai Chudori sendiri tidak pernah aktif dalam partai para kiai tersebut. Alasannya,  fokus kepada pengembangan pesantren dan pendalaman ajaran tasawuf. Sehingga, pesantren ini pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Muktamar Jam’iyyah Thariqat Muktabarah yang berafiliasi pada NU pada tanggal 12-13 Oktober 1957.
Pasca muktamar yang dihadiri ribuan pimpinan tarekat dan peserta dari seluruh Indonesia ini, Pesantren Tegalrejo kian terkenal, hingga santrinya mencapai 1200-an orang. Di masa itulah, paruh akhir 1950-an, Gus Dur nyantri.

Ada kejadian menarik yang menunjukkan karakter tersendiri pesantren ini sampai dikenal hingga kini. Dan juga berbekas dalam pemikiran Gus Dur selama hayatnya hingga menyebut sang kiai sebagai kiai yang ngangeni (bikin kangen).

Sekitar tahun 1957-1958 muncul sedikit ketegangan antara komunitas pesantren dan masyarakat desa perihal penggunaan dana desa. Pihak pertama menghendaki dana tersebut untuk pembangunan perluasan masjid yang sudah tidak bisa menampung jamaah yang meluap.

Sementara pihak masyarakat desa menghendaki dana itu untuk pembelian gamelan bagi pengembangan kesenian reog desa. Lurah tidak bisa memutuskan, persoalan ini akhirnya dibawa ke Kiai Chudori. Jawaban sang kiai cukup telak: kesenian reog diutamakan. Logika beliau, kalau kesenian itu maju, maka mereka akan menyemarakkan pesantren, dan juga akan memakmurkan mesjid. Dan ketika mesjid diperhatikan oleh mereka, tentu mereka akan berjuang untuk memperluas dan mengembangkannya pula. Pesan ini kemudian membekas pada pengasuh-pengasuh pesantren berikutnya. Dan dari sini kemudian Pesantren Tegalrejo dikenal sebagai pesantren pelindung kesenian rakyat.

Penerimaan Santri Baru Pesantren Terpadu Al-Yasini

Pesantren Al Yasini memiliki  10 lembaga formal, 3 diantaranya berstatus NEGERI dan 2 Perguruan tinggi  yaitu : (SDI-MTs-SMPU-SMPN-SMA-MAN-SMKN-SMKK-Akbid dan STAI/STKIP) termasuk puluhan lembaga pendukung serta Madrasah diniyah-salafiyah  (ula, wustho dan ulya). Selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat pada pendidikan maju maka setiap lembaga pendidikan telah memiliki kelas-kelas unggulan.

Al-Yasini Siap Menyiapkan  santri mandiri dengan mengembangkan jiwa entrepreneurship

VISI dan MISI

Visi

Menjadi pusat pendidikan Islam Terpadu untuk menghasilkan insan religius,  nasionalis, intelektual, berakhlak al karimah dan  mandiri

 Misi

  • Mendidik santri memiliki kedalaman ilmu keagamaan dan penghayatan pada ajaran Agama Islam  ala ahlussunnah wal jamaah dengan mengedepankan prinsip istiqomah, amanah dan moderat
  • Menyiapkan  santri mandiri dengan mengembangkan jiwa entrepreneurship
  • Mendidik santri menguasai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi
  • Menyiapkan santri yang mempunyai jiwa nasionalisme yang tinggi
  • Membekali santri dengan penguasaan bahasa arab dan inggris
  • Mendidik santri menjadi generasi yang berakhlak al karimah
  • Menyiapkan santri sebagai kader yang siap mengembangkan dakwah di berbagai daerah
  • Mengembangkan kemitraan dengan institusi lain baik regional maupun internasiol

Info Pendaftaran :

LEMBAGA

PIMPINAN

KONTAK PERSON

Yayasan PP Terpadu Al-Yasini

Jainudin, S.Pd (Ketua)

O85790908070

Ir.Moh.Irham Zuhdi, M.Pd (Sekretaris)

081330580063

SDI

Dra.Sri Windari Wahyuni

08175215192

MTs

Sofwan Hadi, S.Ag

082142613285

SMPU

Suhaemi, S.Pd.i

08123327033

SMPN

Solihin, M.Pd

082141409060

SMA

Ah. Munif, S.Ag

085749250000

MAN

Ali Masyhar, M.Pd

08125267658

SMKN

Drs. H. Munir

081615171597

SMKK

Dr. Kholidatul Khusnia

’03437744487

Pondok

M. Nuhari

’085649270660

Madin

Idham  Kholid

085755555089

Salafiyah

Utsman Ali

085755511070

STAI

Muhamad Soleh, M.Ag

085790809966

STKIP

Pramujianto, M.Si

08125249748

 

DANA KOMITE PENDIDIKAN  TAHUN PELAJARAN 2012-2013 TERJANGKAU ! :
No LEMBAGA SPP perbulan
1 Pondok pesantren Rp 50.000,-
2 Madin Rp   5.000,-
3 Salafiyah Rp 10.000,-
4 SDI Bebas bea SPP
5 SMPU Reguler/Saintek Rp 20.000,-/Rp 25.000,-
6 SMPN Bebas bea SPP
7 MTs Rp 20.000,-
8 SMA Kls Reguler/Exelent Rp 70.000,-/Rp 90.000,-
9 MAN Kls Reguler/Olimpiade Rp 85.000,-/Rp 125.000,-
10 SMKN Rp 95.000,-
11 SMK Kes Rp 130.000,-
12 AKBID Rp 400.000,-
13 STAI/STKIP Rp 150.000,-

Mengajak Santri Mengenal Bisnis Toko Online

REPUBLIKA.CO.ID, Suasana Ponpes Al Ittihad di Jalan Cianjur-Bandung Km 3 Bojong, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Cianjur, Kamis (14/6) dan Jumat (15/6) tampak berbeda. Di pesantren terbesar di Cianjur ini selama dua hari digelar pelatihan Santri Indigo yang digelar Republika dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

Tema pelatihan yang diusung cukup menarik dan menantang yakni Internet Business Inspiration. Pengajar yang dihadirkan juga berasal dari kalangan profesional dan menguasai bidangnya. Hal ini tak heran menyedot perhatian seratus peserta pelatihan yang berasal dari berbagai ponpes se-Kabupaten Cianjur.

Salah satu pengajar yang hadir misalnya Chief Executive Officer Gantibaju.com, Aria Rajasa yang mengisi pada hari kedua pelatihan. Gantibaju.com adalah website creative clothing line yang menggabungkan clothing line, e-commerce, dan kontes desain kaos. Sejak berdiri hingga sekarang gantibaju.com telah mendapatkan penghargaan dari dalam dan luar negeri.

Dalam kesempatan tersebut Aria mengungkapkan, pengalamannya dalam merintis usaha di media online. Sebelum membuka usaha online, Aria pernah bekerja di Bank Dunia dan sejumlah perusahaan yang berhubungan dengan teknologi komputer.

Aria baru memutuskan masuk ke dalam bisnis internet sejak 2009 lalu. Pilihanya terjun ke bidang bisnis online khususnya desain kaos ini didukung fakta mulai banyaknya masyarakat yang memanfaatkan media internet untuk berbelanja.

Dari data Kaskus yang dikutip Aria Rajasa menyebutkan, bidang fashion menempati rangking pertama dalam forum jual beli (FJB) Kaskus atau sekitar 50 persen lebih. Bidang lainnya seperti DVD, komputer, dan handphone masih berada di bawah bidang fashion.

Selain untuk bisnis, kehadiran gantibaju.com punya misi yang lain.‘’Gantibaju.com merupakan wadah bagi para desainer dalam mengekpresikan karyanya,’’ ujar Aria di hadapan para santri. Hingga kini sudah ada sekitar 29 ribu desainer yang tergabung dalam gantibaju.com.

Hal ini diwujudkan dengan menerima kiriman desain kaos dari setia desainer. Di setiap bulannya dipilih desain kaos terbaik yang diberikan penghargaan berupa uang tunai dan royalti sebesar 10 persen.

Uniknya, setiap desain kaos yang dikirim harus bernuasa Indonesia. ‘’Kita harus membangkitkan semangat mencintai bangsa,’’ cetus dia, yang mendapat penghargaan dalam bidang Fashion di London, Inggris .

Respon masyarakat terhadap hasil karya anak bangsa berupa kaos ini cukup besar. Pada awal pembukaan website saja, sebanyak 700 kaos dipesan secara online.

Selepas memberikan materi, banyak santri yang antusias untuk bertanya. Salah satunya menanyakan keamanan dalam bertransaksi di media online. Aria mengatakan, gantibaju.com berupaya memberikan layanan terbaik kepada pelanggan dengan mengutamakan kepuasan.

Transaksi jual beli online di Indonesia biasanya dengan mengirimkan uang lebih dahulu, baru konsumen mendapatkan barang yang dipesannya. Sebagian santri pun meminta agar desain kaos pun menggambarkan kebanggan terhadap kalangan santri di Indonesia.

Jaringan usaha pesantren menjanjikan ketahanan ekonomi bangsa

 

Ketahanan ekonomi dipertaruhkan, ketika berbagai negara mengalami krisis khususnya di eropa dan USA. Terdapat kekhawatiran Indonesia terimbas penyakit krisis tersebut.

Penanganan ketahanan ekonomi bangsa tidak selayaknya  pragmatis dan jangka pendek, apalagi dengan menjual asset sumber daya alam, serta menggadaikan properti bangsa kepada pihak asing dengan alasan efisiensi dan atau demokrasi ekonomi.

Iklim investasi Asing langsung yang berorientasi eksplorasi sumberdaya alam hendaknya diperketat untuk menjaga ketersediaan energi masa depan Indonesia, kecuali investasi sarana dan prasarana dimana teknologi dibidang itu belum sepenuhnya kita miliki dan kuasai.

Ketersediaan dana yang berasal dari penjualan asset properti bangsa (BUMN atau BUMD), serta dana hasil investasi dari eksplorasi sumberdaya alam untuk kebutuhan konsumen dunia dan mengabaikan permintaan komsumen dalam negeri, demikian pula dengan sumber dana pinjaman luar negeri, merupakan beban ekonomi masa mendatang.

Perolehan dana secara instan yang disertai dengan beban bunga pinjaman adalah faktor yang memicu terjadinya krisis ekonomi sebagaimana eropa dan USA. Selayaknya perolehan dana pembangunan dihasilkan dari hasil kreatifitas anak bangsa, sehingga jumlah dana yang dimiliki sebagai sumber dana pembangunan dan jumlah uang beredar sebanding dengan jumlah barang yang dihasilkan produsen dalam negeri.

Berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk memperkuat ketahanan ekonomi bangsa diantaranya adalah :

Usaha Santri Raudhah Hasilkan 1,4 M Setahun

LPJ

Santri Pengurus Organisasi Pelajar (OPRH) berhasil mengumpulkan hasil usaha senilai 1,4 M, hal ini disebutkan dalam acara laporan pertanggung jawaban pengurus OPRH lama dan pelantikan pengurus baru, jumlah yang relatif besar itu merupakan jumlah akumulasi selama setahun dari hasil usaha pengurus bagian toko pelajar, studio foto, warung pelajar, pangkas dll dan akan diserahkan kepada pesantren. Hal ini mendapat sambutan baik dari Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah Drs. H. Rasyidin Bina MA, dalam sambutannya, Bapak direktur mengucapkan terimakasih atas kerja para santri dalam mengemban tugas dan amanah sebagai pengurus OPRH. ” Terimakasih atas kerja keras para santri pengurus OPRH semoga ini menjadi pendidikan yang baik dan bermanfaat.” Direktur Pesantren Ar-Raudlatul Hasanah juga melantik pengurus baru Organisasi Pelajar Ar-Raudlatul Hasanah (OPRH) siang hari selasa (1/24) sekitar pukul 11.30 WIB di gedung serbaguna pesantren. Pada pelaksanaan LPJ dan Serah Terima Amanat tahun ini, santrri/santrwati kelas 2 terpaksa mengikuti jalannya acara dari luar gedung Serbaguna di bawah tenda yang telah disediakan oleh Panitia Pelaksana. Hal ini diakibatkan oleh bertambahnya jumlah santri-santriwati dari tahun sebelumnya yang kini berjumlah 2500 orang. Dalam kesempatan itu, Bapak Direktur menyampaikan beberapa item masalah manajemen dan fungsi berorganisasi dalam dunia pesantren. Menurutnya, salah satu fungsi dan tujuan organisasi bagi santri adalah sebuah upaya menyiapkan para santri untuk menjadi seorang pemimpin yang baik dan professional, mampu memimpin, mengatur, dan mendidik sehingga dalam prakteknya para pengurus baru ini harus selalu dibimbing dan selalu dievaluasi oleh majlis pembimbing dari pada dewan guru di pesantren.

Dari masa ke masa Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah selalu mengupayakan usaha-usaha mandiri untuk mencukupi segala kebutuhan dalam menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Usaha-usaha mandiri diwujudkan melalui pendirian berbagai unit usaha yang tergabung dalam Bidang Usaha Milik Pesantren, dengan Badan Hukum milik Koperasi Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah nomor 36/BH/KWK.2/II/1995.