Monthly Archives: October 2012

Pesantren Agrobisnis Didik Para Santri Jadi Pebisnis

Pak De Karwo resmikan Ponpes Mukmin Agrobisnis (Foto: Koran SI/Abdul Rouf)

SIDOARJO - Pesantren mendidik para santri dengan ilmu agama itu sudah biasa. Lain halnya di Pondok Pesantren Mukmin Mandiri Agrobisnis dan Agroindustri di perumahan Graha Tirta, Jalan Bougenville, Nomor 69, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Di pesantren itu, selain dibekali ilmu agama, para santri juga akan mendapat ilmu berbisnis dan berwirausaha.

Pengasuh Ponpes Mukmin Mandiri Agrobisnis dan Agroindustri, KH M Zakki Mukmin, mengatakan dengan ilmu bisnis diharapkan nantinya para santri bisa berguna. Zakki mengaku mendirikan pesantren tersebut karena ingin menularkan ilmunya.

“Sejak kecil saya dididik di lingkungan pesantren milik orangtua di Lamongan. Sesudah berkeluarga, saya juga menekuni bisnis dan Alhamdulillah maju. Saya ingin menularkan ke santri yang sudah menetap di pesantren ini,” jelas Zakki Mukmin.

Para santri yang lulus bisa diharapkan sudah memiliki bekal untuk berwirausaha, berbisnis, maupun di bidang industri lainnya. Pesantren Mukmin berharap santrinya pandai berdagang untuk menunjang perekonomian.

Salah satu bisnis yang diterapkan di pesantren itu adalah produksi kopi. Kopi merk Mahkota Raja diproduksi PT Mutiara Dewi Jayanti milik Zakki. Para santri yang mengolah kopi, mulai dari biji kering hingga menjadi roster (bubuk).

Setiap bulannya, santri bisa memproduksi sekira 20 ton kopi campuran robusta dan ara. Santri bekerja selepas mengaji dan mendapat pelajaran lainnya.

Mereka dibayar sesuai UMR, yakni antara Rp 1,2 juta sampai 1,5 juta. Setiap hari, santri juga mendapatkan jatah makan dan minum gratis. Karena itu, para santri ponpes ini dipilih dari kalangan tidak mampu.

“Hasil kerja di dalam pesantren, banyak digunakan untuk biaya sekolah dan kuliah para santri nantinya setelah lulus,” ujar President Director PT Golden Harvestindo itu.

Ponpes Mukmin Mandiri Agrobisnis dan Agroindustri diresmikan oleh Gubernur Jatim Soekarwo, Minggu kemarin. Turut hadir dalam peresmian tersebut Kandepag Provinsi Jatim, Suja dan Rois Suriyah PWNU Jatim, KH Miftahul Akhyar.

Pak De Karwo, panggilan akrab gubernur, optimistis keberadaan pesantren agrobisnis dan agroindustri ini mampu menekan jumlah pengangguran.

Bergaul, Kunci Utama Wirausaha

JAKARTA - Kesuksesan seorang wirausahawan ditentukan sejumlah faktor. Ditjen Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Elih Sedia Permana berpendapat, modal utama dalam berwirausaha adalah pendidikan nonformal.
Image: corbis.com
Pada seminar nasional “Strategi Kewirausahaan  Masyarakat untuk Meningkatkan Kehidupan Sosial Ekonomi Melalui Pendidikan Non-Formal” yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu PendidikaN (FIP) Universitas Negeri Semarang (Unnes) tersebut Elih menyebut, pendidikan nonformal diperoleh dari kemampuan seseorang dalam bersosialisasi dengan lingkungan. Berwirausaha, lanjutnya, bisa dimulai dengan bergaul dengan para pengusaha.

“Misalnya saja bergaul dengan penjual gorengan. Maka Anda mendapatkan banyak informasi dan bisa memulai berwirausaha dengan menjadi pengusaha gorengan karena Anda berpikir bahwa usaha itu memiliki pasar dan ada peluang,” kata Elih, seperti dikutip dari laman Unnes, Sabtu (9/6/2012).

Rektor Unnes Sudijono Sastroatmodjo menambahkan, wirausahawan yang baik adalah orang yang mampu mengatur dan mengelola hubungan yang baik dengan orang lain. “Wirausahawan yang baik itu seharusnya memiliki kepekaan dalam rasa dan memiliki kemampuan sosial yang baik. Kepekaan itu merupakan potensi yang akan menuntun seseorang untuk menemukan dan memanfaatkan peluang usaha yang ada di sekitarnya,” ujar Sudijono.

Ketua Panitia Seminar Daman mengatakan, seminar ini diselenggarakan sebagai bentuk kepedulian akademisi Unnes terhadap mental mandiri masyarakat yang dianggap perlu dibenahi. Sebab, lanjutnya, wirausaha tidak selalu bermakna ekonomi, namun juga sosial.

“Wirausaha sosial adalah bagaimana mengelola kelompok sosial menjadi berdaya guna bagi perubahan. Perubahan tersebut bisa dari wawasan, pola pikir hingga perilaku yang lebih dinamis,” imbuh Daman.(rfa)

PakDe Karwo sebagai pembina HIPSI JATIM iap mensupport pengusaha HIPSI Go-Nasional

Pengurus HIPSI setelah rapat dengan Bapak Gubernur Jawa Timur, Pakde Karwo @Grahadi Surabaya.
Beliau sebagai pembina HIPSI Jatim siap mendukung program2 Hipsi dan tumbuh kembangnya Entrepreneur dikalangan Santri dan Alumni.

PakDe Karwo akan memfasilitasi temen-temen pengusaha santri untuk Go-Nasional melalui pameran perdagangan antar propinsi.

Mas Anang Hermansyah telah bersedia menjadi pembina Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI pusat)

Alhamdulillah, Mas Anang Hermansyah telah bersedia menjadi pembina Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI pusat) dan bersama HIPSI menyebarkan Wirausaha dikalangan Pengusaha Santri.

Foto: Alhamdulillah, Mas Anang Hermansyah telah bersedia menjadi pembina HIPSI pusat dan bersama HIPSI menyebarkan Wirausaha dikalangan Pengusaha Santri.</p>
<p>Inside : foto 2 pembina Hipsi, Pak Aunur Rofiq & mas Anang Hermansyah. </p>
<p>yang belum gabung..<br />
yuk, join grup: PESANTREN MANDIRI / follow: @hipsi_nasional

Inside : foto 2 pembina Hipsi, Pak Aunur Rofiq & mas Anang Hermansyah.

yang belum gabung..
yuk, join grup: PESANTREN MANDIRI / follow: @hipsi_nasional
Website www.pesantrenmandiri.com

Wirausaha Muda Mandiri Goes to Pesantren, Membangun Ekonomi Kreatif di Pesantren

Di samping menjadi wahana dakwah Islam dan kaderisasi ulama, pesantren seharusnya juga dapat menjadi pusat pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya. Apalagi mayoritas pesantren berada di pedesaan, sehingga secara tidak langsung memiliki peran strategis sebagai motor pembangunan di kawasan tersebut.
Dengan dilandasi nilai-nilai keislaman serta suri tauladan yang didapat selama menjadi santri di pondok pesantren, seyogianya hal tersebut dapat menjadi modal bagi para santri untuk berwirausaha,. Namun demikian, dari ribuan pesantren di Indonesia yang saat ini ada, hanya sedikit saja yang berhasil melahirkan santri-santri dengan bekal agama yang cukup serta siap memiliki kemampuan untuk membangun ekonomi bangsa melalui aspek kewirausahaan.
Diakui atau tidak, pemberdayaan pesantren dalam bidang ekonomi saat ini masih tergolong minim. Fokus utama pesantren memang terletak di bidang pendidikan, akan tetapi seharusnya pesantren dapat memberikan kontribusi lebih lanjut kepada lingkungan disekitarnya terkait pengembangan ekonomi kreatif berbasis pesantren.
Didasari pemikiran bahwa pesantren memiliki potensi untuk menjadi pusat pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat di sekitarnya, Bank Mandiri berinisiatif menggelar kegiatan workshop “Wirausaha Muda Mandiri (WMM) Goes to Pesantren” yang menjadi bagian dari rangkaian program WMM, dimana dalam kegiatan workshop ini para santri berkesempatan memperoleh materi mengenai peluang wirausaha yang sesuai dengan potensi yang ada di lingkungan sekitar pesantren.
Direktur Utama Bank Mandiri Zulkilfi Zaini mengatakan, setelah membangkitkan jiwa kewirausahaan dikalangan mahasiswa melalui program WMM Goes to Campus, kini sudah saatnya Bank Mandiri mulai mengembangkan potensi lainnya, yakni Pesantren. “Kita ingin menyebarkan virus kewirausahaan kepada anak-anak muda. Oleh karena itu, melalui kegiatan ini, kami berharap dapat meningkatkan keterampilan para santri serta menumbuhkan sense of business mereka sehingga pada akhirnya akan terbentuk wirausaha-wirausaha muda potensial yang agamis,” ujar Zulkifli Zaini pada workshop “WMM Goes to Pesantren” yang diselenggarakan di Pondok pesantren Qodratullah, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan pada Kamis (13/9).
Kegiatan “WMM Goes to Pesantren” yang diselenggarakan Bank Mandiri di Pondok pesantren Qodratullah ini diikuti sebanyak 700 santri dan santriwati yang berasal dari 20 pondok pesantren se-Sumatera Selatan (Sumsel) serta  dihadiri oleh Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini, Deputi Menteri bidang Pengembangan SDM Kemenkop dan UKM, Prakoso BS, dan jajaran pimpinan ponpes se Sumsel.
 

Jiwa Entrepreneur pun Terabaikan

Oleh : Mujib Kodar*

Di dalam al-Qur’an terdapat 370 ayat yang berkaitan dengan persoalan bisnis dan perdagangan. Selain itu, banyak hadits yang membicarakan keutamaan para pebisnis. Sayangnya orang Indonesia yang mayoritas beragama Islam lebih memilih menjadi karyawan daripada menjadi seorang entrepreneur. Menurut data terakhir jumlah entrepreneur kita hanya 0,18 persen (sekitar 420 ribu orang) dari total penduduk Indonesia. Padahal menurut pakar kewirausahaan David McClellad, minimalnya 2 persen dari total penduduk sebuah negara adalah entrepreneur, baru sebuah negara dapat hidup sejahtera.

Negara-negara lain sudah lebih banyak dari angka minimal itu. Mungkin, karena itulah mereka lebih maju secara ekonomi dan lebih bagus secara sosial. Di Malaysia yang menjadi pengusaha mencapai 5 persen, di Singapura jumlah pengusahanya sudah mencapai 7 persen China dan Jepang mencapai 10 persen sedang Amerika Serikat sudah mencapai 12 persen.

Padahal kalau dilihat dari fakta tentang negeri kita, Indonesia kaya raya dengan Sumber Daya Alam (SDA). Karena itulah penjajah datang ke negeri ini untuk mengeksploitasi  dan mengambil SDA kita. Sehingga saking terbiasanya hidup terjajah bangsa kita seakan  lupa dengan adanya SDA itu. Di samping SDA yang berlimpah mulai dari minyak bumi, timah, gas alam, nikel, kayu, bauksit, tanah subur, batu bara, emas, perak, tanah pertanian dan lain-lain, negeri ini juga memiliki penduduk dengan usia angkatan kerja dan pemuda fantastis.

Data BPS tahun 2010 menyebutkan, penduduk Indonesia saat ini 237.556.363 juta jiwa. Dari jumlah itu, yang tergolong penduduk usia produktif atau angkatan kerja 116,53 juta. Logikanya jika sebuah negara memiliki lahan pekerjaan yang cukup luas dan cadangan tenaga kerja yang berlimpah, maka mestinya negeri ini makmur sejahtera, jumlah penganggurannya sedikit dan tidak ada penduduk miskin yang jumlahnya na’udzubillah seperti saat ini.

Sehingga karena tidak terjadi keseimbangan antara pencari kerja dan lapangan kerja, sehingga bagi mereka yang tidak punya gelar sarjana, terobosan yang diambil untuk mengatasi pengangguran adalah lari ke luar negeri menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). Untuk kepentingan jangka pendek, menjadi TKI memang membantu Indonesia. Selain mengurangi jumlah pengangguran juga memberikan pemasukan devisa negara. Namun untuk kepentingan jangka panjang, tentu saja ini membahayakan dan memalukan SDA negeri ini akan terbengkali atau akan dimiliki bangsa lain karena tenaga kerjanya banyak yang di luar negeri. Untuk mereka yang memegang sarjana ijazah sarjana, tidak berarti nasib mereka lebih beruntung. Mereka harus menanggung beban yang lebih berat. Mau jadi TKI sudah malu duluan, masak sarjana jadi TKI? Mau mencari kerja di dalam negeri jumlah lapangan sudah tidak mungkin mecukupi. Jadinya mereka berebut lapangan pekerjaan yang ada dengan cara apapun agar mereka dapat mengisi lowongan tersebut. Salah satunya adalah dengan jalan sogok-menyogok. Dan sisanya, bagi mereka yang sudah merasa putus asa untuk mencari kerja. Akhirnya mengambil jalan pintas diantaranya yaitu dengan cara mengamen, mencopet, mencuri dan lain sebagainya yang telah dilarang oleh negara seperti yang kita ketahui bahwasanya angka pengangguran itu berbanding lurus dengan tindak kriminalitas. Dari permasalahan tersebut tak dapat dipungkiri bahwasanya, Indonesia saat ini membutuhkan jutaan entrepreneur, bukan para pencari kerja. Hanya peran kaum entrepreneur yang mampu mengeluarkan masyarakat Indonesia dari krisis ekonomi sekarang ini.

Adanya realita tersebut tak ayal, jika jiwa entrepreneurship di Indonesia sudah saatnya untuk digenjot agar mencapai jumlah entrepreneur yang proporsional, minimalnya 2 persen. Jika jumlah itu terpenuhi maka akan ada banyak rongsokan berubah menjadi emas, pasir menjadi permata dan sampah menjadi berlian. Banyak lahan yang bisa kita hidupkan sehingga peluang kerja bertambah dan jumlah pengangguran berkurang. Namun kalau jumlah entrepreneurnya berkurang bisa-bisa emas yang kita miliki berubah menjadi rongsokan, permata yang kita simpan berubah menjadi pasir dan berlian yang kita timbun akan berubah menjadi sampah. Dan SDM kita yang seharusnya menjadi aset malah menjadi beban. Untuk menumbuhkah jiwa entrepreneur bagi bangsa tentunya bukan suatu hal yang mudah. Dan perlu adanya suatu langkah yang pasti untuk menumbuhkan hal itu. Setidaknya ada dua cara efektif untuk menanamkan nilai-nilai entrepreneurship.