Tag Archives: CSR mandiri

About HIPSI

Sekilas tentang  HIPSI

Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (HIPSI) telah di didirikan dan di launching pada tanggal 3 Februari 2012. Pendirian organisasi ini dilandasi semangat untuk menumbuhkan wirausaha di kalangan santri dan mengokohkan jejaring ekonomi antar warga nahdiyyin seluruh Indonesia

Para Pendiri HIPSI adalah 500-an para santri pondok pesantren dari berbagai wilayah yang mengikuti workshop Entrepreneur di Pesantren Al-Yasini Pasuruan. HIPSI ini telah direstui langsung oleh Ketua dan Sekretaris RMI NU (Bpk DR. Amien Haedary dan KH Miftah Faqih)

HIPSI yang didirikan di Pesantren Al-Yasini Pasuruan ini juga sudah berkembang di sejumlah daerah, seperti Jatim, Jateng, Banten, Kalimantan dan Palembang. Sejumlah provinsi lain seperti Jabar, makasar, bahkan luar negeri seperti Malaysia dan Hongkong menjadi target berikutnya.

Profil dan Program Kerja Hipsi (Bisa di Download) HIPSI Program Kerja

Visi HIPSI :

“ Mencetak 1 Juta Santri Pengusaha“

Misi :

  1. Menjadi wadah pengembangan Pendidikan Wirausaha Santri  yang mampu menciptakan peluang pekerjaan dan menyerap tenaga kerja sebanyak mungkin serta menciptakan pengusaha baru kreatif dan inovatif.
  2. Melahirkan Pengusaha Besar Nasional dari Pesantren
  3. Mensinergikan jejaring kekuatan ekonomi santri Indonesia
  4. Pemberdayaan ekonomi masyarakat

Bentuk Organisasi

HIPSI adalah organisasi yang secara langsung dibina berada dalam Induk organisasi RMI NU Pusat (Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU)

Struktur Organisasi

Stuktur Organisasi HIPSI berada di tingkat pusat maupun daerah. HIPSI saat ini lagi membuka peluang untuk para santri /alumni dan keluarganya serta warga muslim pada umumnya untuk menjadi bagian tim pendobrak, pengurus dan pioner di Seluruh Indonesia

Keanggotaan

Ketentuan organisasi menetapkan dua jenis keanggotaan. Status sebagai A nggota B iasa bagi mereka yang berusia 16 – 45 tahun. Sedangkan bagi mereka yang telah melewati usia di atas 45 tahun statusnya menjadi Anggota Luar Biasa, akrabnya sering disebut sebagai para Senior. Keanggotaannya bersifat terbuka bagi santri/alumni dan keluarganya yang memiliki usaha atau punya keinginan kuat untuk berwirausaha.

PP Miftahul Ulum Al-Yasini Pasuruan Dominasi Pemenang

Jakarta, NU Online
Sebagian jajaran nama yang masuk nominasi, akhirnya keluar sebagai pemenang. Dewan juri yang terdiri para ahli dan praktisi perekonomian, telah menyeleksi dan menilai presentasi para nominator yang diadakan oleh GP Ansor pada 13-16 Juli 2012 di Gedung Madinah Asrama Haji Donohudan, Surakarta, Jawa Tengah. 9 pemenang berasal dari PP Miftahul Ulum Al-Yasini, Pasuruan, Jawa Timur.

Anugerah wirasantri mandiri adalah ajang lomba penulisan dan penuangan ide kreatif santri untuk menggugah jiwa kewirausahaan. Sayembara ini terselenggara atas kerjasama GP Ansor dan Bank Mandiri. Para kontestan dapat menggarap satu dari empat kategori; Kategori Pertanian, Perikanan, dan Peternakan, Katergori Jasa dan Perdagangan, Kategori industri kreatif, dan Kategori pengolahan pangan.

Peraih juara umum dari Kategori Pertanian, Perikanan, dan Peternakan diraih oleh Aisyatul Widad, Feti Apriliyaputri, dan Leli Afsadia Alfarieza dari PP Miftahul Ulum Al-Yasini, Pasuruan Jawa Timur. Mereka mengajukan proposal ‘Budidaya Bayam Merah Secara Vertikultural’.

Berikut ini adalah nama-nama kontestan yang berhasil meyakinkan dewan juri dalam presentasi proposal mereka. Mereka adalah juara dari empat kategori.

1. Kategori Pertanian, Perikanan, dan Peternakan

Juara I
Judul Proposal: “Budidaya Bayam Merah Secara Vertikultur”
Perwakilan: PP Miftahul Ulum Al-Yasini, Pasuruan, Jawa Timur
1. Aisyatul Widad
2. Feti Apriliyaputri
3. Lely Afsadia Alfarieza

Juara II                       
Judul Proposal: “Terobosan Bisnis Pertanian Perikanan (Sistem Mina Padi Berbasis Ikan Koi dan Padi Organik)”
Perwakilan: PP. Nurul Ummah, Kotagede, Yogyakarta
1. Agifian Hanif Firdaus

Juara III :
Judul Proposal: “Budidaya Pepaya California”
Perwakilan: PP. Minhajut Thullab, Banyuwangi, Jatim
1. Moch. Purnomo
2. Dwi Cahyono
3. Taufi Shidqi 

Bank Mandiri Berikan Rp 5,1 Miliar untuk Yatim dan Dhuafa

 

RMI_NU : JAKARTA — Bank Mandiri memberikan bantuan senilai Rp 5,1 miliar kepada ribuan anak yatim dan kaum dhuafa. Penyerahan bantuan tersebut berasal dari dana Bina Lingkungan Bank Mandiri tahun 2012.

Diberikan dalam acara buka puasa bersama jajaran direksi Bank Mandiri, di Jakarta, Sabtu (28/7/2012), bantuan tersebut terdiri dari Rp 1,325 miliar untuk santunan kepada 5.300 anak yatim dan dhuafa, Rp 950 juta untuk masyarakat kurang mampu, Rp 825 juta untuk memperbaiki prasarana di 145 yayasan anak yatim dan anak cacat di sejumlah wilayah di Indonesia, serta Rp 2 miliar untuk pembangunan sarana air bersih dan sanitasi di lima pondok pesantren di bawah naungan PB Nahdatul Ulama.
Direktur Utama Bank Mandiri Zulkifli Zaini mengatakan, bulan Ramadhan merupakan momentum tepat untuk mendapatkan pencerahan setelah sebelas bulan disibukkan dengan persoalan-persoalan duniawi.
“Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk kepedulian kami kepada lingkungan,” kata Zulkifli dalam siaran pers, Minggu (29/7/2012).
Untuk santunan bagi 5.300 anak yatim dan dhuafa, Bank Mandiri memberikan paket berupa uang saku dan perlengkapan sekolah senilai Rp 250.000 per paket. Bantuan tersebut diberikan kepada 1.000 anak yatim dan anak-anak tunarungu di wilayah Jakarta serta 3.800 anak di luar Jakarta. Sementara 500 paket santunan lainnya akan didistribusikan oleh setiap direktorat yang ada di Bank Mandiri.
Sebanyak 1.000 anak yatim juga mendapatkan edukasi tentang kewirausahaan. Mereka mendapatkan edukasi berbentuk permainan interaktif terkait kewirausahaan. Pemberian santunan dan edukasi kewirausahaan tersebut merupakan salah satu implementasi program bina lingkungan Bank Mandiri.
Adapun dana Bina Lingkungan yang telah disalurkan Bank Mandiri hingga Juni 2012 mencapai Rp 159,4 miliar untuk berbagai kegiatan. Sementara itu, program kemitraan yang telah disalurkan sebesar Rp 90,38 miliar.

a

Andi Arham Bunyamin, CEO Kretakupa Printing : Bermula dari Puluhan Ribu, Kini Beromzet Ratusan Juta

Tak pernah terbayangkan di benak Andi Arham Bunyamin bisa menjalankan usaha Kretakupa Printing seperti sekarang ini. Berawal dari ketidaksengajaan, usaha percetakan itu terus berkembang hingga beromzet ratusan juta rupiah.
 Ulet, optimistis, dan semangat pantang menyerah menjadi kunci kesuksesan Arham. Dari bisnis yang semula kecil dan hanya untuk melayani pesanan teman, pria 22 tahun ini telah berhasil menuai keuntungan berlipat. Dia juga berkesempatan mengikuti program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) tahun 2010 silam yang digelar Bank Mandiri dan menjadi Pemenang II Katagori Mahasiswa Program Diploma dan Sarjana Bidang Industri & Jasa.
Cikal bakal Kretakupa Printing bermula dari ketidaksengajaan. Empat tahun silam, Arham yang saat itu duduk di bangku SMA kelas III menawarkan jasa membuat suvenir untuk temannya yang akan mengadakan kegiatan. Untuk lebih meyakinkan, dia mengaku memiliki usaha pembuatan suvenir. Tawaran itu ternyata mendapat sambutan. Arham dipercaya membuat suvenir dan diberikan dana Rp50 ribu  sebagai uang muka.
Bermodal uang itulah,  pria kelahiran 30 Oktober 1989 ini berupaya membuat pin untuk memenuhi pesanan temannya. Namun kebingungan justru melanda. Sebab, faktanya dia tidak memiliki peralatan untuk memproduksi pin. Apalagi ketika itu jasa pembuatan pin sangat jarang di kota Makassar, Sulawesi Selatan.
Seminggu berselang, Arham belum juga menemukan tempat untuk memproduksi pesanan tersebut. Karena tak kunjung menemukan solusi, dia sempat berpikir untuk mengembalikan uang muka. Di tengah keputusasaan, dia tanpa sengaja menemukan  tempat pembuatan pin. Tanpa pikir panjang Arham memesan pembuatan pin di tempat itu.
Belajar dari pengalaman tersebut, mahasiswa semester V jurusan Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin, Makassar, tersebut memutuskan untuk memiliki usaha percetakan. “Saya berpikir betapa sulitnya mendapatkan percetakan yang bisa membuat pin pada waktu itu, makanya terpikir untuk membuat usaha sendiri,  sehingga keuntungan yang didapat bisa lebih maksimal. Berbekal modal yang diperoleh dari keuntungan pada waktu itu, saya menekuni usaha ini sampai sekarang,” terang Arham saat ditemui di tempat usahanya di Jalan Abd Dg Sirua No 238 C Makassar.

Anafiah Rahmawati, Meraup Untung dari Gurihnya Bisnis Kerupuk Hasil Laut

Inovasi dan kreativitas menjadi salah satu kunci sukses dalam berbisnis. Hal ini telah dibuktikan oleh Anafiah Rahmawati, dimana berbekal inovasi dan kreativitas, hasil laut bisa diolah menjadi komoditas andalan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir Pantai Kenjeran, Jawa Timur.
Kerupuk adalah lauk, itu dulu namun sekarang dengan sedikit inovasi dan kreativitas jenis kerupuk masa kini makin variatif dan fungsinya meluas sebagai camilan yang disukai tua-muda.
Tengok saja pada penyelenggaraan pameran Pasar Indonesia Goes to Mall yang diselenggarakan Bank Mandiri di Mal Margocity, Depok, belum lama ini. Stand “Krupuk Risma” termasuk yang paling ramai dikunjungi. Pengunjung umumnya penasaran dengan aneka camilan kriuk yang jarang ditemui di Depok atau Jakarta.
“Kami datang dari Kenjeran, Surabaya,” ujar Anafiah Rahmawati, sang pemilik stan, ditemui SINDO di sela-sela kesibukannya meladeni pembeli.
Pesisir Pantai Kenjeran yang terletak di utara Surabaya  memang sejak lama dikenal sebagai sentra produksi kerupuk olahan hasil laut. Salah satu desa pesisir Pantai Kenjeran yang layak dijuluki kampung kerupuk adalah Kelurahan Sukolilo, tempat tinggal Anafiah.
 “Dulunya yang memulai (pembuatan kerupuk) adalah para nelayan pesisir Kenjeran ini. Kalau kebetulan tangkapan ikan sedang sepi, mereka menganggur. Jadi mereka coba-coba membuat kerupuk supaya penghasilannya lebih baik,” tuturnya.
Anafiah mewarisi usaha produksi dan berjualan kerupuk dari ayahandanya. Saat sang ayah merintis usaha pada 1995, produksi kerupuk olahan hasil laut jenisnya masih terbatas pada kerupuk ikan, teripang, dan terung laut. Umumnya bahan baku kerupuk didapat dari hasil melaut nelayan setempat atau nelayan di Pulau Madura.
Seiring berjalannya waktu, Anafiah dan produsen kerupuk lainnya makin rajin berinovasi dengan mencoba menciptakan jenis kerupuk dan keripik baru. Setiap item hasil laut dioptimalkan pemanfaatannya. Misalnya dari jenis ikan, bisa tercipta kerupuk kulit ikan kakap, kulit ikan pari, hingga kerupuk lambung ikan. Dengan racikan bumbu tertentu, ikan asin juga disulap menjadi rempeyek renyah yang banyak disukai.“Kuncinya berani mencoba. Kalau gagal tidak apa-apa, dicoba lagi terus, lama-lama makin maju,” ucapnya.
Aneka kerang seperti kupang (sejenis kerang kecil) dan kerang bambu atau di Madura terkenal dengan sebutan lorjuk, setelah diolah ternyata juga bisa menjadi santapan lezat. Lorjuk yang telah digoreng hingga kecoklatan misalnya, rasanya gurih agak manis walaupun tanpa tambahan gula. Lantaran susah dicari, lorjuk yang biasa hidup di pasir pantai atau tersembunyi di antara karang, umumnya berharga lebih mahal dibanding kupang. “Tapi sejauh ini yang paling mahal itu kerupuk ekor kerang, harganya Rp50.000 per ons,” sebut Anafiah.

Jefri Van Novis, Berawal dari Sub Agen, Kini Miliki 53 Mitra Usaha

Kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat akan tiket perjalanan telah mengantarkan Jefri Van Novis sukses sebagai wirausahawan. Melalui usaha Bonita Tour and Travel yang didirikan pada 2006, pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatera Barat, 16 November 1981 itu kini telah memiliki 53 mitra usaha yang tersebar di berbagai kota. Padahal semula dia hanya memiliki lokasi usaha kecil dengan dibantu oleh seorang karyawan magang.

Usaha jasa tour and travel ini pada awalnya hanya sekadar sampingan bagi Jefri. Jauh sebelumnya ia menggeluti usaha berjualan pakaian dalam wanita bersama kakaknya dengan membuka toko Bonita di Pasar Aur Kuning, Bukit Tinggi.

Usaha tour and travel itu pun sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya. “Berawal dari permintaan tolong kakak saya untuk membeli tiket di kota Bukit Tinggi yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pasar Aur Kuning. Nah, dari situ terbersit keinginan untuk membuka usaha tour dan travel ini. Apalagi di Pasar Aur Kuning belum ada satupun agen yang menjual tiket” tuturnya.

Dengan percaya diri Jefri memulai usaha itu. Selain karena belum ada pesaing, dia juga telah memiliki pengalaman sebagai pedagang, sehingga tidak takut gagal. “Jika kita sudah mengalami kegagalan hingga dua kali, jangan pernah menjadikannya sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Kesuksesan itu biasanya muncul dari kegagalan,” ujarnya.

Bermodalkan Rp10 juta hasil tabungan semasa kuliah, dia menjalin kerja sama dengan Kristal Tour and Travel sebagai sub-agen di Pasar Aur Kuning. Toko Bonita digunakan sebagai lokasi usaha. Pada awal merintis usaha tersebut, Jefri hanya mempekerjakan satu karyawan yang merupakan karyawan magang Kristal Tour and Travel.

Satu bulan berjalan, usaha penjualan tiket yang dijalankannya laris manis. Permintaan dari konsumen pun mengalir deras. Atas dasar itu, Jefri mulai menggarap serius usahanya. Setahun berjalan, dia memutuskan pindah ke Jalan By Pass Pasar Aur Kuning No 4 Bukit Tinggi Sumatera Barat.

“Saya menjual tiket ke teman-teman. Beberapa hari kemudian mereka pesan lagi. Tidak disangka ternyata animo masyarakat untuk membeli tiket sangat tinggi. Saya sempat kewalahan melayani permintaan. Ternyata jaringan sangat ampuh dalam menunjang bisnis ini,” paparnya.

Rendi Maulana, Pasarkan Jeans Ekslusif di Kalangan Kampus

Dari dunia kampus, Rendi Maulana merajut mimpinya menjadi pengusaha celana jeans eksklusif. Melalui metode pemasaran online dan bantuan mitra reseller di sejumlah kampus dan kota besar, saat ini produk jeans bermerek “Koren Denim” miliknya mulai dikenal luas.
Tak pernah terbersit sebelumnya di benak Rendi Maulana untuk melaksanakan kuliah sambil berwirausaha. Saat meninggalkan kota asalnya Tasikmalaya untuk kuliah di Bandung pada tahun 2007, niatnya semula hanyalah untuk belajar di Kota Kembang itu. Hingga pada tahun 2010, mahasiswa jurusan Manajemen Universitas Kristen Maranatha ini diminta membantu usaha sepupunya di bidang pemasaran celana jeans.
Rendi yang saat itu buta dengan industri fesyen mengaku sempat ragu memasarkan celana jeans seharga rata-rata Rp300 ribu itu. Namun setelah ditelaah dan dipelajari, ternyata respon pasar sangatlah bagus dan menjanjikan. Rendi pun giat mencari relasi, pasar, dan membuat konsep menarik agar produknya bisa laku terjual.
“Dari pengalaman itu, saya terpikir untuk menjalankan usaha sendiri,” ujarnya saat ditemui SINDO dalam acara pameran Pasar Indonesia Goes to Mall yang diselenggarakan oleh Bank Mandiri di Mal Kelapa Gading, Jakarta Utara, belum lama ini.
Keinginan Rendi untuk berwirausaha semakin mencuat saat program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) dari Bank Mandiri menyambangi kampusnya pada tahun 2011. Dalam program tersebut, beberapa mahasiswa termasuk dirinya berkesempatan mengikuti coaching selama 6 bulan, bertempat di gedung Bank Mandiri Jalan Soekarno Hatta, Bandung. “Di situ kami mendapat pelatihan dari semacam lembaga motivasi, salah satunya adalah materi tentang kewirausahaan,” tuturnya.