Tag Archives: pesantren entrepreneur

Magang Budi Daya Lele Sangkuriang @Jakarta 22 April-2 Mei 2012

Pilot Project Pesantren Mandiri Kerja bareng Bank Mandiri, RMI N, Silva Farm dan PP Terpadu Al-Yasini.

Berikut penerima Hibah bantuan Pelatihan 3 bulan (di pasuruan, Jakarta, Boyolali), alat2, 12 unit kolam pembesaran&pembenihan, bibit, 30 Indukan bersertifikat, pakan palet sampai panen, obat2-an, probiotik, total @ senilai 20-30- jt/pesantren.

1. PP Assa’diyyah, Winongan
2. PP Roudhotul Mustarsyidin, Krian Sidoarjo
3. PP Salafiyah/Bait al-Hikmah. Pasuruan
4. PP Audah, Pasuruan
5. PP Al-Qurtybi, Bondowoso
6. PP Alkholili, Lekok
7. PP Al-Yasini, Areng2
8. Yayasan Manarul Huda, Pohjentrek

2 Hari Belajar Kuliner bersama Chef parman

TRAINER Mr. PARMAN CHEF HOTEL HILTON INTERNASIONAL

 

Pasuruan, Sabtu-Minggu (14-15 April 2012) sebuah praktikum sederhana untuk para peserta preneur camp, mereka di didik untuk menjadi jutawan atau milyarder oleh Mr. Parman hanya dengan memasak. Beliau mengajarkan teknik dasar memasak. Sebagai seorang koki yang sangat berpengalaman, dengan semangat beliau tanpa henti-hentinya memberikan semangat belajar memasak yang membuat para peserta harus bisa action, dan akhirnya tibalah giliran para peserta yang memasak dengan arahan sang Koki. Selama dua berlangsung, para peserta benar-benar mengetahui, bagaimana memulai masak yang baik. Ada tiga kriteria yang harus diperhatikan oleh peserta, pertama adalah preparetion yang kedua adalah cleanis dan yang ketiga adalah higienis. Itulah tiga kunci memasak yang harus diperhatikan oleh kalian, pesan beliau kepada para peserta.

Selama dua hari berlangsung, para peserta dapat memasak nasi goreng spesial, steak chicken, dan capjai. Hebatnya, hal itu dapat dilakukan oleh peserta selama kurang dari dua hari. Padahal Mr. Parman yang begitu suksesnya dengan menjadi koki yang mengelilingi eropa dengan kapal pesiar, menempuh pelajaran pertama dengan waktu 5 bulan. Maklum, dengan background santri, para peserta dengan mudahnya mempraktekkan langsung apa yang disampaikan oleh Chef Parman. “Sungguh hebat dan luar biasa, kalian menempuhnya hanya 2 hari, padahal saya belajar seperti ini lima bulan.” Ujarnya, sambil mengacungkang jempol. Berikutnya beliau pun menyampaikan, Kalian wajib action. Harus… karena, kalian akan rugi kalau hanya mengetahui saja tanpa dipraktekkan. Wajib, dipraktekkan. Setidaknya itulah pesan dari Chef Parman untuk 30 santri terpilih se-Jatim yang sudah mengikuti pesantren prenenur camp selama 15 hari, dan masih ada 6 hari kedepan buat para peserta untuk menuntaskan kegiatan perdana yang digagas oleh HIPSI ini, kebetulan ada tiga agenda besar buat para peserta menjelang berakhirnya kegiatan ini. Yang pertama, mereka akan mengetahui langsung bagaimana Internet Marketing bersama PT. Telkom, Tbk (17 April 2012). Dan juga mereka sudah siap untuk menjadi Jutawan via Facebook bersama Alfian Anjar (18 April 2012). Dan Out Bound penuh tantangan yang harus mereka siapkan esoknya.

NEW ! Selamat Untuk Peserta Pesantren ENTREPRENEUR CAMP

DO YOU READY FOR

Pesantren ENTREPRENEUR Camp ? FREE !

 

Form Pendaftaran Bisa di Download di :

25 Peserta Lolos Seleksi  :

  1. Aunur Rofi’i  Prambon, Sidoarjo. 085655228271
  2. Muhammad  Fachruddin  PP Roudlotul Mustarsyidin, Sidoarjo 083831848073
  3. Sodikin Baksari Pasuruan
  4. Munir Puwodadi Pasuruan
  5. Muhammad, Semare pasuruan
  6. Warno 081937108759
  7. Syaifuddin Ponpes Assa’diyah Gondang Wetan 0343-7648798
  8. Muhammad Ali Pon Pes Ngalah Sukorejo 085655433271
  9. Tajuddin Rahmat  PP Almuhajirin II Tambak Beras Jombang, 081515555714
  10. Achmad Wordoyo,  Jember. 081234569990
  11. Abdur Rozaq, Pondok Tremas, Pacitan 085259300123/081914891191
  12. Shodiqin, PP Salafiyah Al-Choliliyah, Lekok 085785225671
  13. Jazuli Yasin, PP Al-Mubarok Tempuran, Paserpan  081515167665
  14. M. Ibrohim PP Salafiyah (KH Abd Hamid) Jln jawa 03437850642
  15. Syaihu, PP Audah Kebun Jaya, pasuruan  03437636704
  16. Mas Hasan, PP Roudhotul Ulum Besuk Hp 081233707500
  17. Abdul Ghofur, PP Nuruttohir Jember, hp 085755683572
  18. Ali Muflihan, Bojonegoro, 085852998100
  19. Ainul rofiq, PMII Pasuruan, 085852528524
  20. Achmad Zainuri, Raci Pasuruan, 081937107666
  21. Usman, Griya Kebun Jaya Pasuruan
  22. Ahsani Fatchur Rahman, Pondok Pesantren Al Ishlahiyah Singosari Malang
  23. M. Sodik, Lumajang 085790906776
  24. M. Ikhsan, PP Al-Yasini, Pasuruan
  25. Masud, PP Al-Yasini, Pasuruan

Pelaksanaan Pesantren EntrepreneurCamp 1-21 April 2012

Download Jadwal Camp disini: Pesantren Mandiri Batch 1 (1-21 April)

Pentingnya Teknopreneurship bagi Masa Depan Indonesia


Teknopreneurship adalah sumber kesejahteraan masa kini dan masa yang akan datang. Di tangan mereka ini ilmu pengetahuan dan teknologi berubah wujud menjadi produk-produk yang akan meningkatkan kualitas kehidupan dan memiliki nilai tambah tinggi. Ada 5 alasan mengapa Pemerintah Indonesia harus serius mempersiapkan penciptaan teknopreneur-teknopreneur baru:

Technopreneurial firm ialah innovative firm yang menciptakan nilai tambah tinggi
Dalam buku “Good Capitalism, Bad Capitalism” yang ditulis oleh Carl. J. Schramm, William J. Baumol, Robert E. Litanm, dikemukakan bahwa ada dua jenis usaha berbeda yang bisa kita temui. Jenis pertama ialah replicative firms. Usaha ini berupa bisnis-bisnis yang pada hakikatnya hanya menyalin pola bisnis yang sudah dilakukan oleh orang lain.Ketiga penulis buku tersebut di atas menerangkan bahwa sebagian besar usaha kecil pengguna kredit mikro tergolong usaha jenis replicative yang sifatnya hanya meniru yang sudah ada. Program kredit mikro yang tersalur pada sebagian besar usaha kecil ini dianggap ketiga penulis kurang mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dalam sebuah negara. Hal ini dikarenakan usaha replicative memiliki banyak kelemahan, seperti ketergantungan pada kredit mikro.

Krawu Burger, Perpaduan Makanan Modern dan Tradisional

Jika Anda pecinta kuliner, khususnya burger, maka harus coba burger yang satu ini! Biasanya, burger dibuat dengan cita rasa modern dengan isian daging, keju, mayonaise, acar, dan saus sambal. Tapi, burger yang satu ini diolah dengan cita rasa tradisional Nasi Krawu asli Kota Gresik, Jawa Tengah.

krawu1211Adalah Lailatul Saadah alias Ela, yang pertama kali mencetuskan ide Krawu Burger ini. Mahasiswa D-3 Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya, itu memang ingin melestarikan kuliner tradisional.

Ela kemudian menggandeng Said Nur Rohmat dari jurusan Desain Produk ITS, dan Teguh Indoko yang kuliah di jurusan Administrasi Bisnis Universitas Brawijaya (UB), Malang. Ketiganya berinovasi mengemas nasi Krawu yang biasa dibungkus daun pisang menjadi burger praktis dan modern. Nasi Krawu sendiri merupakan menu nasi dengan lauk pauk daging sapi dan serundeng kelapa.

“Kuliner tradisional ini mewarisi resep, rasa dan aroma yang khas. Namun sayangnya, nasi Krawu mulai kehilangan peminat. Terutama dari kaum muda. Karenanya saya mencoba mengangkat kembali pamor nasi krawu dalam wujud lain,” kata Ela seperti dinukil dari laman okezone.com.

Ponpes Sunan Drajat, Ponpes Entrepreneur

Di pinggir jalan Paciran-Sukodadi, Desa Banjaranyar, Paciran, Lamongan, sebuah mesin penghalus batu kapur menderu-deru membisingkan telinga. Tampak sejumlah buruh memasukkan butiran batu kapur yang sudah halus ke kantong plastik.Berton-ton tepung dolomite dan fosfat tiap hari dihasilkan dari salah satu unit usaha Pondok Pesantren Sunan Drajat. “Tiap hari kami bisa memproduksi 300 ton pupuk dolomite,” kata Abdul Ghofur, pemimpin Pesantren Sunan Drajat.

Selain memproduksi pupuk dolomite, Ghofur juga membuat pupuk organik dari fosfat, kalium fosfat, dan NPK (nitrate, phosphate, kalium). Bisnis pupuk dimulai pada 2004 sebagai pengembangan usaha koperasi Pondok Pesantren Sunan Drajat yang telah dirintis pada 1992.

Waktu itu Ghofur melihat banyaknya sumber mineral di Banjaranyar tapi kurang dimanfaatkan secara maksimal. “Hanya dijual untuk menguruk jalan,” katanya. Padahal desa yang berada di tepi pantai utara Jawa Timur ini menghasilkan batu mineral dalam jumlah besar.

Setelah melakukan penelitian, Ghofur mengetahui bahwa batu kapur itu mengandung dolomite dan fosfat yang bisa dipakai untuk pupuk. Bahkan bubuk dolomite juga berguna untuk campuran baja dan bahan kosmetik. Biasanya, satu truk batu kapur dijual Rp 15 ribu. “Tapi, jika untuk kosmetik, bisa laku Rp 15 juta,” katanya.

Melihat peluang pasar yang luas itu, ia memperluas lahan pertambangannya di Desa Banjaranyar menjadi 60 hektare pada 2004. Selain itu, lahan tersebut juga dikembangkan menjadi pusat pelatihan dan industri agribisnis. Di sana ada perikanan lele, peternakan domba, dan penggemukan sapi. Kini pesantren itu punya 200 domba. Pesantren ini juga bisa menjual 4 kuintal lele sekali panen.

Wahyu Saidi, Sang “Doktor” Bakmi

Wahyu Saidi, Sang “Doktor” Bakmi
Kartu nama itu unik, sekaligus lucu. Coba baca: Dr. Ir. H. Wahyu Saidi, MSc. Tapi jangan terkecoh, menyangka pemiliknya dosen atau peneliti di sebuah perguruan tinggi. Sebab, di bagian bawah tercantum, dengan huruf lebih kecil, nah: “Alumni ITB, Tukang Bakmi”. Sungguh!

WAHYU_SAIDIInsinyur Teknik Sipil ini lulusan Institut Teknologi Bandung, tempat ia juga menyabet S-2 Teknik Industri. Wahyu lalu bekerja di sebuah perusahaan pembangun jalan layang seraya menyelesaikan program doktor bidang manajemen pendidikan di Universitas Negeri Jakarta.

Apa lacur, Wahyu akhirnya menjadi saudagar bakmi. Tapi bukan sembarang tukang bakmi. Dialah orang di balik gerai waralaba “Bakmi Langgara” dan “Bakmi Tebet”, yang kini menjamur di Jakarta dan wilayah sekitarnya. Hingga kini cabang Bakmi Tebet sudah 47, dan beberapa waktu lalu ia meresmikan cabang ke-36 Bakmi Langgara di Jalan Sawojajar, Bogor. Semua itu terjadi hanya dalam empat tahun.

Kisah sukses pria 42 tahun ini bermula ketika krisis ekonomi melandatanahAir. Perusahaan jalan layang tempatnya bekerja gulung tikar. Wahyu lalu putar otak. Mula-mula ia mencoba usaha agribisnis, menanam cabe dan buncis. Bangkrut, antara lain karena salah menggunakan pupuk. “Pupuk buncis itu ternyata buat daun, bukan untuk buah,” kata Wahyu, tertawa mengenang pengalamannya.

Tak putus asa, Wahyu mencoba peruntungan di bisnis makanan. Mula-mula ia membuka lepau ikan patin, masakan khas Palembang, ranah kelahirannya. Tapi perkembangan kedainya, yang terletak di Jalan Pemuda, Jakarta Timur, datar-datar saja. Dalam sehari ia hanya memperoleh pemasukan Rp 100-150 ribu.

Kendati pendapatan minim, ada pelajaran yang dipetik Wahyu dari bisnis makanan. “Untung berjualan makanan itu bisa 100 persen dari modal yang kita keluarkan,” ujarnya. Memadukan pengalaman praktis di lapangan dan ilmu manajemen yang dipelajari di kampus, Wahyu mencari jenis makanan yang punya prospek bagus. “Jangan seperti ikan patin, yang cuma bisa dimakan orang dewasa dan waktu makannya kebanyakan siang hari,” katanya.

Ia lalu menetapkan kriteria: makanan yang disukai semua orang dan bisa dimakan pagi, siang, maupun malam. Mulailah ia menganalisis berbagai menu, mulai dari soto kudus, soto madura, siomay, ayam bakar, sampai roti bakar. Pilihan akhirnya jatuh pada bakmi.

Wahyu mulai belajar membuat bakmi yang lezat. Patokannya adalah Bakmi Gajah Mada. Wahyu menyatakan kekagumannya pada restoran yang sangat terkenal dan banyak penggemarnya itu. Sayangnya, Bakmi GM tak membuat waralaba.

Tapi Wahyu tak hilang akal. Ia mengundang para pakar kuliner, analis rasa, juga pensiunan koki Bakmi GM. Kerja keras itu tak sia-sia. Wahyu berhasil memperoleh bumbu penyedap bakmi dan 33 jenis hidangan lain, kendati cita rasanya, tentu, tak seratus persen menyamai Bakmi GM.

Pada 2000, ia mulai membuka gerai bakmi di Menara Kadin. Lokasi itu ia peroleh berkat pertemanannya dengan seorang pengusaha. Gerai pertama itu diberi nama “Bakmi Langgara”. Kemudian menyusul gerai di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur, lalu di kawasan Setia Budi, Jakarta Selatan. Tapi gerai baru ini menggunakan nama “Bakmi Tebet” Nama yang bernuansa Jakarta.

Wahyu menggunakan teori pemasaran untuk memecah pasar. Jika Bakmi Langgara diposisikan untuk konsumen kelas menengah-atas, Bakmi Tebet buat khalayak menengah-bawah. Di masa-masa awal, Wahyu mengaku sering terbentur masalah dana untuk mengembangkan usaha.

Beruntung ia berjumpa Hermanu, seorang pensiunan Bank Indonesia yang bersedia membantu pembiayaan. Sampai kini Hermanu tetap menjadi kongsi Wahyu yang setia. Sayang, upaya membidik dua segmen pasar berakhir kandas. Posisi pasar Bakmi Langgara dan Bakmi Tebet lambat-laun berbaur.

Wahyu akhirnya menetapkan keduanya sama-sama menembak target pasar menengah. Agar usahanya cepat berkembang, Wahyu membuat sistem waralaba. Ia menjamin biaya waralabanya murah. “Dengan Rp 100 juta sudah cukup untuk membuka cabang Bakmi Langgara atau Bakmi Tebet,” katanya.

Bakminya terbukti disukai konsumen. Irwan Kelana, salah satu pembeli waralaba Bakmi Langgara di kawasan Parung, Bogor, mengaku dalam sehari bisa memperoleh Rp 2 juta. “Kalau Sabtu dan Ahad malah bisa Rp 3 juta,” katanya.

Dengan pendapatan sebesar itu, dalam satu atau satu setengah tahun, kata Wahyu, modal biasanya kembali. Kendati usahanya berbiak cepat, Wahyu tak mengorbankan mutu. Ia rutin menggelar pelatihan buat para koki. “Agar standar rasa masakan tetap terjaga,” ujar pelahap buku-buku pemasaran itu. (*/Tempo.co)